Gatotkaca – Kematian

Gatotkaca sangat akrab dengan sepupunya yang bernama Abimanyu putra Arjuna. Suatu hari Abimanyu menikah dengan Utari putri Prabu Matsyapati di mana Abimanyu mengaku masih bujangan. Padahal saat itu Abimanyu telah menikah dengan Sitisundari putri Sri Krisna

Sitisundari yang dititipkan di istana Pringgandani mendengar suaminya telah menikah lagi. Paman Gatotkaca yang bernama Kalabendana datang menemui Abimanyu untuk mengajaknya pulang. Kalabendana adalah adik bungsu Arimbi yang berwujud raksasa bulat kerdil tapi berhati mulia. Hal itu membuat Utari merasa cemburu. Abimanyu terpaksa bersumpah jika benar dirinya telah beristri selain Utari, maka kelak ia akan mati dengan cara dikeroyok musuh.

Kalabendana lalu menemui Gatotkaca untuk melaporkan sikap Abimanyu. Namun Gatotkaca justru memarahi Kalabendana yang dianggapnya seenaknya mencampuri urusan sepupunya itu. Karena terlalu meluapkan emosi, Gatotkaca memukul kepala Kalabendana. Walau perbuatan tersebut dilakukan tanpa sengaja, namun pamannya itu tewas seketika.

Ketika perang Barathayuda dimulai, Abimanyu benar-benar tewas dikeroyok para Kurawa pada hari ke-13. Esoknya pada hari ke-14 Arjuna berhasil membalas kematian Abimanyu dengan cara memenggal kepala Jayadrata.

Suyudana sangat terpukul atas kematian Jayadrata, adik iparnya. Ia memaksa Dipati Karna menyerang perkemahan Pandawa malam itu juga. Dipati Karna terpaksa menuruti perintah prabu Suyudana meski hal itu melanggar peraturan perang.

Mendengar para Kurawa melakukan penyerangan malam, pihak Pandawa mengirim Gatotkaca untuk menghadang serangan.

Pertempuran malam itu berlangsung menegangkan. Gatotkaca berhasil membunuh sekutu Kurawa yang bernama Lembusa. Namun ia sendiri kehilangan kedua pamannya, yaitu Brajalamadan dan Brajawikalpa yang mati bersama musuh-musuh mereka, bernama Lembusuro dan Lembusana.

Gatotkaca akhirnya berhadapan dengan Karna, pemilik senjata Konta. Ia pun menciptakan kembaran dirinya sebanyak seribu orang hingga membuat Karna merasa kebingungan. Atas petunjuk ayahnya, yaitu Batara Surya (Dewa Matahari), Karna berhasil menemukan Gatotkaca yang asli. Ia pun melepaskan senjata Konta ke arah Gatotkaca.

Gatotkaca menghindar dengan cara terbang setinggi-tingginya. Namun arwah Kalabendana (pamannya) tiba-tiba muncul menangkap Konta sambil menyampaikan berita dari Swargaloka bahwa kematian Gatotkaca telah ditetapkan malam itu.

Gatotkaca tak bisa apa-apa terhadap keputusan dewata. Namun ia berpesan agar mayatnya masih bisa digunakan untuk membunuh musuh. Kalabendana setuju. Ia kemudian menusuk pusar Gatotkaca menggunakan senjata Konta. Pusaka itu pun lenyap bersatu dengan sarungnya, yaitu kayu Mustaba yang masih tersimpan di dalam perut Gatotkaca.

Gatotkaca mati seketika. Arwah Kalabendana kemudian melemparkan mayatnya ke arah Karna. Karna berhasil melompat sehingga lolos dari bahaya. Namun keretanya hancur berkeping-keping tertimpa tubuh Gatotkaca yang meluncur kencang dari angkasa. Akibatnya, pecahan kereta tersebut melesat ke segala arah dan menewaskan para prajurit Kurawa yang berada di sekitarnya. Tidak terhitung banyaknya berapa jumlah mereka yang mati.