Kebun Binatang Ragunan

Kebun Binatang Ragunan

“Dek, sini. ayah mau beritahu sesuatu” ujar ayahku. Aku menurut, aku beranjak dari sofa. “Ada apa, ayah ?” tanyaku heran. Ibuku berbisik kepadaku. “Nanti siang kita mau ke Ragunan” bisik ayahku. Aku begitu terkejut mendengarnya, ke kebun binatang Ragunan ?! Asyikkkk!!!!!, batinku senang, sebelumnya aku belum pernah ke Ragunan. “Ayo bersiap-siap, kita pergi 30 menit lagi.” sahut ayahku. “Siap bos !” kataku dengan gaya tentara, hahahaha.

30 menit kemudian anggota keluarga kami sudah siap di ruang keluarga menunggu ayahku yang hendak mengambil buku panduan kebun binatang Ragunan. Kata ayah ia mendapat buku itu dari teman ayah yang pernah ke kebun Binatang Ragunan. Yeayy, kami sekeluarga sekarang siap. Ragunan kami datang ! Mobilku bertolak menuju Ragunan.

Setiba di gerbang pintu barat di Ragunan, kami membeli tiket dan memasuki area kebun binatang.

Kesan pertama kali masuk Ragunan ya tentu saja WOW !! Kulihat sekeliling terdapat banyak fauna dan hewan yang unik dan menarik.

Kami bergabung dengan selusin orang yang terlihat disebuah kerumunan, ternyata mereka semua sedang mendengar sejarah hewan dari sang pemandu wisata. Ini dia perkataan pemandu yang kucatat. “Rusa Tutul adalah hewan yang berasal dari India, yang pada mulanya didatangkan ke Istana Bogor oleh Thomas Stanford Raffles” dan “Sedangkan jerapah adalah hewan yang berasal dari daerah Afrika”.

Ketika pemandu tersebut berkata. “Ada yang mau bertanya ?” hampir semua anak seusiaku mengangkat tangan. Ada yang bertanya inilah, itulah, hahahahaha aku lupa apakah aku juga bertanya…..

Oke, selanjutnya kami digiring ke tempat pelestarian burung yang terdapat banyak sekali jenis burung yang habitatnya di Indonesia. “Sekarang kita bertemu hewan yang berperan dalam pembentukan negera Indonesia yaitu….. Elang Jawa ! Pasti tahu ‘kan lambang Garuda pancasila ? Nah Elang Jawa ini adalah hewan asli dari lambang Garuda pancasila, sayangnya kini Elang Jawa jarang ditemukan dan membuatnya sebagai hewan langka” sang pemandu menundukan kepala sebagai penambah efek dramatis. Hahahaha, kami semua tertawa pelan.

Kini kami semua beralih ke burung Kacer yang sedang berkicau lantang. “Tahukah kalian keunikan burung Kacer ini ?? Coba sebutkan” kami semua menjawab. “Bulunya hitam !!” ujar kami anak-anak serempak. “Ya, pada Kacer Jawa atau bisa juga dibilang Kacer jawa timur, mempunyai warna hitam yang dominan pada bulu. Hampir Seluruh tubuh Kacer berwarna hitam, kecuali pada sayap ada warna putihnya. Penyebarannya mulai dari Seychelles (Afrika), Jawa dan Kalimantan (Indonesia).

“Oh begitu ya, kok kicauannya bisa sangat indah sih, om ?” tanyaku.

“Kicauan Kacer sangat merdu dan pintar menirukan suara-suara di sekelilingnya. Penampilan sangat hebat sambil memainkan ekor. Volume suara sedang. Jenis burung ini juga suka dengan udara panas, apalagi kalau sudah gacor. Nanti kalau burungnya udah banyak, pasti bisa membentuk grup band Kacer. Hihihihi” tutur oom pemandu panjang lebar.

“Om, gacor itu apa sih ?” tanyaku lagi.

“Gacor maksudnya adalah rajin berkicau” kata oom pemandu menerangkan.

Kami anak-anak mengangguk-angguk mengerti.

Tak terasa sudah jam 12 siang kerumunan bubar, perutku berbunyi. “Kita makan dimana ?” tanya kakakku memegang perutnya.

“Dimana yah ?” kami mencari seisi kebun binatang dan akhirnya menemukan tempat makan. Kami memasuki tempat makan tersebut dan beristirahat duduk melepas lelah.

Kira-kira sejam kemudian kami kembali menjelajah Ragunan, tidak sengaja aku melihat sejarah kebun binatang Ragunan yang dituliskan dalam poster. Berikut adalah sejarahnya: “Kebun Binatang Ragunan adalah kebun binatang pertama di Indonesia. Kebun binatang ini didirikan pada tahun 1864 dengan nama Planten En Dierentuin yang berarti “Tanaman dan Kebun Binatang.” Terletak pada tanah seluas 10 hektare di kawasan Cikini, Jakarta Pusat yang merupakan pemberian seorang pelukis ternama Indonesia, Raden Saleh. Saat itu, Planten En Dierentuin dikelola oleh Perhimpunan Penyayang Flora dan Fauna Batavia yang tergabung dalam Culturule Vereniging Planten en Dierentuin at Batavia.

Tahun 1949, nama Planten En Dierentuin diubah menjadi Kebun Binatang Cikini. dan pada tahun 1964 dipindahkan ke kawasan Pasar Minggu Ragunan Jakarta Selatan. Pemerintah DKI Jakarta menghibahkan lahan seluas 30 hektare yang menjadi rumah bagi kebun binatang ini. Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin meresmikan Taman Margasatwa Ragunan pada 22 Juni 1966”

Tiba-tiba pundakku dirangkul oleh seseorang di belakangku. “Hah ! Dikira siapa, ternyata ayah dan kakak”.

“Itu sejarahnya ya, dek ?” tanya ayahku.

“Iya, baca deh. Menarik banget !” sahutku.

“Yuk kesitu” kata ibuku menunjukan sebuah gua besar yang bertuliskan “Pusat Primata Schmutzer”. Oh iya, pusat primata Schmutzer adalah pusat pelestarian primata terbesar didunia, aku membacanya di buku.

Ayahku setuju, aku dan kakakku gembira. Seusai kami masuk kami disambut oleh puluhan monyet dalam sebuah kandang kaca yang besar lengkap dengan rumputnya. Kami juga melihat 3 ekor Gorila, tampaknya mereka sedang bermain dengan sebuah bola plastik.

“Wow, cerdas banget mereka !!” ujarku melihat aksi gorila yang bermain bola voli.

“Itu sih nggak seberapa, lihat deh monyet itu” celetuk kakakku menunjuk monyet yang beratraksi memakai tali. Ibuku hendak memfoto monyet-monyet lucu tersebut, entahlah kenapa mereka menjadi panik setiap ibu memfoto, mungkin karena sinarnya menurut mereka adalah sebuah ancaman besar.

Kami bertualang jelajah pusat primata ini, melihat banyak jenis primata yang tidak aku ketahui. Jangan salah, sebagian primata di pusat pelestarian ini dikirim dari pemerintah Inggris misalnya gorila, monyet, bekantan dan lain-lain. Kalian tahu hewan lemur ? Ternyata hewan ini termasuk anggota ordo Primates, anggota ordo Primates selain lemur adalah kera, tarsius, monyet dan manusia. Kata Primates berasal dari bahasa Latin yang berarti “yang pertama, terbaik, mulia” kukira primata hanya sejenis monyet saja.

Kami berjalan sekitar 1 setengah jam-an, tanpa didampingi oleh pemandu. But that’s not a problem, disetiap kandang terdapat tulisan penerangan tentang hewan di kandang masing-masing, lagipula aku juga bisa mencarinya di internet karena ayahku membawa ponsel pintar.

Di salah satu kandang monyet aku melihat ada seekor monyet yang terlihat memakan plastik makanan ringan lalu aku melihat ada anak yang melempar makanan ringan beserta bungkusannya ke dalam kandang, sontak saja aku terkejut, persis di samping anak itu tertulis “Dilarang memberi makan !” masa sih anak tersebut tidak melihatnya ??? Jelas-jelas sudah tertulis dengan kalimat yang baik, ini dia kelalaian pengunjung akan pentingnya peraturan di Ragunan, selain itu banyak sampah berserakan dimana-mana. Padahal tempat sampah banyak tersedia, aku melihat sampah-sampah tersebut di tanah dan sungai. Sungguh prihatin melihat keadaan Ragunan ini, terlebih banyak juga hewan yang keadaannya memprihatinkan seperti Singa, Rusa, Harimau, Flamingo dan lain-lain. Sedih aku melihatnya, kulihat Singa yang sepertinya sedang merenung, Singa tersebut kelihatanya seperti tak mandi berbulan-bulan dan terlihat jinak tapi tertekan. Sedih membicarakan si raja rimba yang keadaannya menyedihkan, aku sudah tak tahan menggambarkannya.

Kami sekeluarga kembali berjalan-jalan tetapi karena ada hujan kami berteduh di sebuah bangunan mirip tenda, banyak yang berteduh disitu. Satu persatu keluar dengan jas hujan mereka dan payung, sedangkan kami menunggu dengan kira-kira 4-5 orang.

“Mama, kapan hujannya berhenti ?” tanyaku cemas.

“Mama nggak tahu, mungkin sejam lagi baru berhenti. Kenapa memangnya ?” kata ibuku.

“Kalau hujannya nggak berhenti nanti kita nggak bisa jalan-jalan lagi, sudah jam 4 sore sebentar lagi ‘kan pulang” pintaku lemas.

“Nanti-nanti ‘kan bisa kesini lagi” jawab ibuku. Tetap saja aku lesu, aku ingat 1 setengah jam kemudian lebih tepatnya jam 17.30 hujan berhenti.

Karena setengah jam lagi kebun binatang Ragunan tutup, kami mengakhiri penjelajahan kami dengan menumpang mobil yang didesain lebih mirip kereta, dulu sih tarifnya cuma Rp.5,000. Cihui ! Enak juga ya menikmati keindahan matahari terbenam sambil mengelilingi Ragunan, aku juga sedih karena penjelajahan kami di Ragunan berakhir, padahal banyak tempat yang belum kulihat sama sekali. Semoga Ragunan semakin sukses, semoga para pengunjung bisa lebih sadar akan kelalaiannya dan semoga Ragunan bisa menjadi lebih baik kedepannya.