Hoax berujung derita

Sinar mentari pagi menyapa daerah Pinang, penduduk dari mulai kecil sampai dewasa, baik pria maupun wanita memulai aktivitasnya masing – masing. Tak terkecuali Salman, bocah berumur 11 tahun yang dalam perjalanan menuju sekolah.

Di jalan Salman bertemu dengan bu Wati, adalah teman ibu Salman. Ia tengah menyapu setumpuk daun – daun kering di halaman rumahnya.

“Selamat pagi, bu Wati” sahut Salman hormat. “Daunnya banyak sekali, bu ?”.

“Eh nak Salman. Selamat pagi” tukas bu Wati lesu. “Iya nih…. baru saja kemarin ibu bersihkan. Sekarang sudah kotor lagi….”.

“Anginnya bandel sih, bu !” canda Salman. “Bisanya ngotorin doang..!”.

“Huahahaha !!” tawa bu Wati meledak. “Mau pergi sekolah ya ? Hati – hati ya dijalan”.

Salman mengangguk seraya tersenyum, anak itu beranjak lari.

“Yaaaaaaa !” ujar Salman lantang. “Daaaah !!”.

Sesampainya di sekolah, Salman bergegas menuju kelasnya yang berada di ujung koridor, dengan penempatan semacam itu memungkinkan Salman untuk mengamati suasana kelas – kelas yang dilaluinya.

Pemandangan kelas – kelas yang pintunya tertutup membuat hati Salman gundah, ia berpikir dirinya telat. Pintu yang tertutup adalah tanda pelajaran telah dimulai.

“Aduh… yang lain rupanya sudah mulai belajar…!” batin Salman cemas. “Kumohon jangan telat! KUMOHON!”.

Setiba di kelasnya yang ternyata pintunya terbuka lebar, menunjukan guru belum muncul. Salman mengusap keningnya.

“Phew!” batin Salman lega. “That was Close !“.

“Salman ! Ayo kemari duduk cepat” tukas Wahyu. “Nyaris banget kamu ! Kok telat sih ?”.

“Tadi di jalan ada anjing hitam besar ! Anjingnya menghalangi jalan ke sekolah” sahut Salman merinding. “Jadi terpaksa aku lewat jalan pintas, yang biasa kita lewatin waktu naik sepeda itu, lho!”.

“Hah?? ‘Kan jauh banget tuh jalan” kata Wahyu terkejut. “Masa’ sih ada anjing ???”.

Suwer dah ! Kamu tuh dibilangin ga percayaan” ujar Salman. “Bahkan anjingnya menyeringai, jadi kelihatan tuh giginya”.

“Segede apa anji-” omongan Wahyu dipotong.

“Ngomong – ngomong, bu Eka kok belum menampakan batang hidungnya ??” tanya Salman. “Padahal sudah jam 7 lho ?”.

“Nggak tahu aku, biasanya ‘kan bu Eka selalu paling pertama datang” imbuh Wahyu.

“Entahlah” kata Salman. “Kita tunggu saja, mungkin sebentar lagi ia dat-”.

Baru saja Salman mau berkata “datang”, muncul lah orang yang di bicarakan, tidak lain adalah bu Eka.

“Halo anak – anak ! Selamat pagi semuanya !” sergah bu Eka. “Maaf ibu telat tadi macet di jalan”.

Sekonyong – konyong para murid yang tidak menyangka kedatangan bu Eka dengan lincah duduk di tempatnya masing – masing.

“Bu Eka tuh, BU EKA!” teriak Fajar.

“Ada bu Eka, ada bu Eka” timpal Bayu.

Dengan seketika kelas menjadi terstruktur, para murid berada di tempat duduk masing – masing. Menyebabkan bu Eka tersenyum puas.

“Oke anak – anak, pelajaran kali ini adalah seni budaya” tutur bu Eka. “Buka buku seni, pada halaman 73 akan ada materi yang akan kita pelajari hari ini”.

Pelajaran berlangsung khidmat, serupa dengan apa yang diinginkan bu Eka tentunya.

Bel sekolah yang berdering menandakan pelajaran telah usai, para murid kemudian diperbolehkan istirahat.

Sebagian besar murid lapar berbondong – bondong menuju kantin sekolah, ada juga yang menetap di kelas seraya menyantap bekal dari rumah. Salman adalah salah satunya, bersama dengan Wahyu, Fajar, Dyah, dan Nurul.

Sesuai dengan tema makanan, Salman memulai percakapan yang pastinya didasari oleh makanan.

“Teman – teman !” seru Salman. “Aku punya berita buruk, nih”.

“Berita apaan ?” tanya Wahyu. “Kalau yang anjing aku udah tahu”.

“Hush ! Beritanya bukan mengenai anjing, bahkan lebih parah lagi” cetus Salman kesal.

“Berita apaan, Man ?” tanya Dyah.

“Katanya restoran Sariroso menggunakan daging babi dalam setiap menu yang mengandung kata “daging” !” tutur Salman berapi – api. “Pasti ini ulah pemiliknya untuk menzalimi kita !!!”.

Dari cerita tersebut timbul-lah reaksi, namun reaksi mereka beragam, ada yang terkejut karena percaya, ada juga yang tidak percaya.

“Untung aku belum pernah makan disitu !” tukas Fajar. “Ternyata ada orang sekejam itu”.

“Ya Allah lindungilah aku dari orang – orang yang bermaksud jahat” imbuh Nurul. “Terkutuklah kau wahai pemilik rumah makan Sariroso”.

“Makasih, Man ! Kamu menyelamatkanku !” sahut Wahyu. “Tadi rencananya mau beli makanan dari situ sepulang sekolah !! Untung kamu sebarkan beritanya!”.

Hati Salman berbunga – bunga setelah mengetahui perbuatannya itu menolong salah seorang temannya, tinggal Dyah yang masih terdiam mendengar berita Salman.

“Man” akhirnya Dyah buka suara. “Kamu dapat berita gituan dari mana ?”.

Salman menjawab pertanyaan Dyah. “Dari WhatsApp ayahku, Dyah. Memangnya kenapa ??”.

“Ohh….” sahut Dyah. “Biasanya berita ofensif kayak gitu merupakan berita hoax, kok kamu percaya sih ?”.

“Ga hoax kok, bahkan disertai link ke portal beritanya” tampik Salman. “Kau mau kukirimi linknya?”.

“Ah…” gumam Dyah. “Ga usah deh, Man. Nanti aku cari sendiri”.

Dalam hati Dyah berpikir, Salman mudah amat diperdaya sama berita hoax, ofensif lagi isinya.

Setelah istirahat selesai, para murid diizinkan pulang.

Suatu hari sabtu pada¬† bulan berikutnya, yang masih saja Salman isi dengan menelusuri berita – berita “bermanfaat” (HOAX), setidaknya menurutnya begitu.

Kegiatan itu dihentikannya setelah Wahyu memanggilnya untuk bermain diluar.

“Salman !!! Main sepeda yuk !!” panggil Wahyu lantang.

Seketika Salman beranjak dari sofa dan menurut ajakan Wahyu. Tak lupa ia berpamitan kepada ayahnya.

“Yo!” jawab Salman. “Pah, Salman mau berangkat main dulu ya”.

“Hati – hati ya !” celetuk ayah. “Jangan kejauhan mainnya”.

Salman mengangguk – angguk, lalu menyongsong Wahyu bermain sepeda.

Beberapa jam kemudian pulanglah Salman, kaki yang lumayan kotor dan kucuran keringat menjelaskan Salman bermain jenis permainan yang mengutamakan kecepatan berlari. Entah apa yang dimainkannya.

Sesampainya di pekarangan rumah, Salman tertegun. Ia mendapati mobil asing terparkir di depan rumahnya.

“Mobil siapa ini ?” batin Salman bertanya – tanya. “Mungkinkah kita kedatangan tamu ?”.

Salman kian heran seiring terdengarnya suara perempuan yang bercakap – cakap dengan nada marah.

“Perempuan ??? Teman ayah yang kukenal sering mengunjungi ‘kan berjenis kelamin kali – laki” batin Salman keheranan. “Paling teman ibu yang berjenis kelamin perempuan, tapi….. ibu ‘kan lagi pergi. Dan…. kenapa dengan nada marah ??”.

Ayah yang melihat Salman dari jendela segera menyuruhnya masuk.

“Kamu sini masuk !” seru ayah dari dalam. “Ngapain bengong disitu ?”.

“Eh, ayah….” celetuk Salman. “Ada tam-”.

Perkataan Salman dipotong oleh perempuan yang tidak dikenal tersebut. “EH KAMU YANG NAMANYA SALMAN ‘KAN !!?”.

Hati Salman ciut menghadapi ibu yang tidak dikenal tersebut. “I-iya, bu ??”.

“DASAR KURANG AJAR KAMU !!!! BISANYA SEBARIN BERITA HOAX !!!” marah orang tersebut meledak.

“E-eh mak-maksudnya a-apa?” ucap Salman terbata – bata.

“Tenang, bu ! Duduk dulu, kita bicarakan masalah ini dengan kepala dingin” tukas ayah membela Salman. “Jangan sembarang nuduh anak saya, belum tentu dia pelakunya!”.

Setelah amarah ibu tersebut reda, Salman diminta duduk oleh ayahnya. Lalu ayahnya mencerocos Salman dengan pertanyaan.

“Nak…. apakah kamu menyebarkan berita hoax ke orang lain ?” tanya ayah kepada Salman. “Baik teman maupun saudara, nah apakah kamu menyebarkannya ??”.

Salman menjawab dengan yakin. “Aku tidak menyebarkan berita hoax yang sekiranya kurang bermanfaat”.

“Lalu apakah nak Salman mengenal ibu ini ?” tanya ayah seraya berpaling pada ibu yang tidak dikenal.

“Tidak, aku tidak mengenalnya..” imbuh Salman memandang ibu yang baru saja memarahinya. “Memangnya siapa dia, yah ?”.

“Nak, ibu ini adalah pemilik restoran Sariroso yang dekat sekolah kamu itu” tutur ayah. “Menurutnya kamu telah menyebarkan hoax yang mengatakan bahwa daging yang tercakup di menunya ialah daging babi. Apakah nak Salman tahu ??”.

Salman menelan ludah, ia kemudian menoleh kepada ibu pemilik restoran yang memandangnya dengan tajam.

“I-iya ayah, aku memang menyebarkan berita tersebut” pekik Salman resah. “Me-memangnya itu hoax, yah …. ?”.

Ayah hanya terdiam beberapa saat menanggapi pernyataan Salman.

“Ya, nak Salman” tampik ayah. “Berita itu merupakan hoax alias palsu”.

“La-lalu…. itukah a-alasan ibu ini datang kemari ??” tanya Salman ketakutan.

Dalam hati Salman membatin, Ternyata rumornya telah beredar luas, aduh bagaimana nih.

“Iya, dia baru saja melaporkan popularitas restorannya yang menurun tajam setelah berita tersebut beredar” tutur ayah. “Kau tahu, nak ? Biasanya restorannya dipenuhi oleh orang – orang, bahkan sampai mengantri pada hari weekend seperti sekarang ini”.

“Namun akhir – akhir ini jarang sekali ayah melihat kerumunan yang biasanya terjadi di dalam restoran” lanjut ayah. “Restoran itu sepi sekarang, akibat berita yang kamu sebarkan. Membuat ibu ini penasaran apa yang membuat restoran miliknya sepi”.

“Setelah investigasi kecil, ia mengetahui penyebabnya” papar ayah. “Ada rumor mengatakan restoran miliknya mengandung babi, yang disebarkan kepada warga sekitar oleh seorang anak bernama Salman. Padahal tidak ada kandungan babi sama sekali dalam olahan dagingnya”.

“Omzet restoran Sariroso menurun hingga 60% akibat rumor tersebut”.

Salman hanya bisa tertegun mendengar pernyataan ayahnya, ia sangat SANGAT menyesali perbuatannya yang sama sekali merugikan orang lain.

“Hiks.. hiks… Maafkan aku, maafkan aku !!” tangis Salman pecah. “Hiks…! Sekali lagi maafkan aku, bu !!! Bagaimana cara aku meminta maaf ??? “.

Ibu pemilik tidak sampai tega melihat Salman menangis.

“Sudah, nak….. maafkan sikap ibu juga ya….” urai ibu pemilik. “Ibu akan memikirkan apa hukuman yang pas untukmu”.

Ayah tersenyum melihat anaknya dan ibu pemilik sudah berbaikan, ia juga menunggu apa yang akan diberikan ibu pemilik sebagai hukuman untuk anaknya.

“Ah ! Bagaimana kalau kamu menyebar poster yang akan ibu cetak/buat nanti” celetuk ibu pemilik. “Di poster akan ibu tulis ‘RESTORAN SARIROSO TIDAK MENGANDUNG BABI ! ITU HOAX ! DAN YANG MENYEBARKAN ADALAH SAYA, SALMAN!’”.

“Jangan bu ! Aku nggak mau !” sanggah Salman khawatir. “Aku malu masa ada nama aku”.

“Harus kamu lakukan ! Itu adalah hukuman yang setimpal menurut ibu” celoteh ibu pemilik.

Salman menoleh ke ayah, ia berharap mendapat pembelaan. Namun sial bagi Salman, ayah hanya menggeleng.

“Lakukan saja, nak Salman” kilah ayah.

TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK!

TAMAT

Hikmah cerita: Jangan menyebarkan gosip/berita yang belum tentu benar, apalagi yang ofensif. Siapa tahu merugikan orang lain ?