Homeschooling

“Ring…. !!” Alunan suara bel pun berkumandang dengan gagahnya, memecah keheningan para murid yang tengah mendikte.

“Yess!!”.

“WooHoo !!”.

“Horee!”.

Begitulah kira-kira reaksi para murid, bahkan sampai ada yang berjingkat-jingkat kegirangan. Bagi para guru, hal semacam itu tidak mengherankan, sudah pasti penyebabnya tidak lain adalah buruknya pandangan murid-murid terhadap sekolah.

Kebanyakan murid menganggap sekolah berikut tempat membosankan, menyebalkan, menyuramkan, dan lain-lain. Bahkan ada yang menjuluki sekolah sebagai “penjara”, agak kejam bukan?

Ada banyak faktor yang menyebabkan sang anak menjadi malas sekolah, barangkali dikarenakan beban sekolah yang terlalu banyak, sistem belajar yang tidak menarik  dan bosan bersekolah.

Bahkan tidak menutup kemungkinan terjadinya peristiwa penindasan (bullying) di sekolah, umumnya bullying dilakukan oleh murid-murid yang lebih besar secara fisik.

Mengetahui fakta diatas ini, bagaimana orang tua tidak khawatir ?? mereka menyekolahkan sang anak di sekolah yang terdapat penindasan (bullying).

Lantas, adakah model pendidikan yang memungkinkan orang tua untuk mencegah penindasan, mengontrol apa yang dipelajarinya serta membuat suasana menyenangkan ? Tentu ada, jawabannya adalah HomeSchooling !

Berbekal sistem homeschooling, kamu dapat melakukan eksplorasi hal yang diminati    dengan lebih mandiri dan kreatif karena kamu akan memilih pelajaran yang ingin dipelajari. Dengan begitu, kamu tidak harus selalu menemui pelajaran yang tidak disukai.

Adapun jenis-jenis homeschooling sebagai berikut: Homeschooling Tunggal, Homeschooling Majemuk dan Homeschooling Komunitas.

Homeschooling Tunggal adalah homeschooling yang dilaksanakan secara mandiri tanpa bergabung dengan yang lainnya. Dengan orang tua sebagai “guru” eksklusif.

Homeschooling Majemuk, dimana para orang tua mengundang tenaga pengajar yang ahli untuk mengajarkan berbagai hal kepada anak-anaknya. Jenis ini umunya lebih tren digunakan oleh masyarakat kota yang penduduknya dominan pegawai kantoran, sehingga tidak memiliki cukup waktu untuk sang anak.

Homeschooling Komunitas adalah gabungan dari beberapa homeschooling Majemuk yang menyusun dan menentukan bahan ajar, silabus, kegiatan pokok, sarana/prasarana, dan jadwal pembelajaran. Jenis homeschooling ini menyerupai sekolah umum.

Menurut data valid Direktorat Pendidikan Kesetaraan, terdapat sekitar 600-an peserta homeschooling di Indonesia. Sebanyak 83.3 % atau sekitar 500 orang mengikuti homeschooling majemuk dan komunitas, sedangkan sebanyak 16.7 % atau sekitar 100 orang mengikuti homeschooling tunggal.

Sistem homeschooling mampu menjelma sebagai tempat belajar yang bikin gembira, kenapa begitu ? Nih, jadwal di homeschooling lebih santai dan tidak terikat, potensi unikmu dapat dikembangkan lebih baik, kegiatan ajar-mengajar dapat dilakukan dimana saja dan dapat mempelajari eksperimen lebih serius dengan hal-hal yang memang diminati.

Alasannya ? Tentu saja agar meningkatkan produktivitas sang anak, apabila tempat menimba ilmunya tidak nyaman, membosankan, mengerikan. Lalu, bagaimana sang anak dapat belajar semaksimal mungkin?

Dalam homeschooling tunggal, peran “guru” dilakoni oleh orang tua, antara ayah atau ibumu. Dengan begitu perhatian mereka akan terpusat padamu, hal ini jelas lebih baik dibandingkan perhatian yang harus guru berikan di sekolah dimana seorang guru harus cermat membagi perhatiannya kepada rata-rata 20-25 anak di kelas.

Ini ceritaku tentang pendidikan, bagaimana dengan ceritamu?