Kakek penjual koran

Jakarta oh jakarta, kota yang memiliki predikat intensitas kesibukan yang terbilang cukup tinggi, serta diwarnai dengan jalan-jalan yang hampir selalu macet akibat kendaraan bermotor (termasuk proyek pembangunan infrastruktur kota). Kota yang mengusung konsep metropolitan ini selalu saja dipadati oleh orang-orang yang hilir-mudik menggunakan kendaraan bermotor, maka itu sudah sepantasnya kota jakarta dipandang sebagai kota sibuk.

Hawa dingin akibat hujan deras yang mendera kawasan ibukota ini membuat sebagian orang memakai jaket maupun baju tebal, memang akhir-akhir ini kota Jakarta sering dilanda hujan yang berkepanjangan, yang bilamana didiamkan begitu saja akan menyebabkan banjir. Tentu saja membuat Jakarta menjadi lebih sibuk daripada biasanya. Ada yang sibuk mengatasi banjir, sibuk menghadapi jalanan yang tambah macet sehabis pulang kantor, sibuk memperbaiki atap rumah yang bocor.

Namun dibalik fakta bahwa Jakarta merupakan kawasan mewah, ada saja kaum terpinggirkan yang menghiasi sudut-sudut kota ini. Jika kamu pergi ke kawasan Jakarta (yang mana saja) pasti tidak luput dari pemandangan mengemis yang acapkali terjadi.

mengemis adalah yang mengutamakan prinsip trial and error yang dalam bahasa indonesia artinya mencoba lagi bila gagal.

Dalam mengemis, prinsip trial and error bermakna bila seorang pengemis meminta pada mobil A dan berakhir dengan tangan hampa, maka ia akan melanjutkan lagi ke mobil B dan seterusnya. Pemilihan mobil ini biasa dilakukan di lampu merah, dimana semua mobil diharuskan untuk berhenti. Dimana ada lampu merah, maka disitu ada pengemis.

Seseorang tidak dianjurkan untuk memberi uang kepada pengemis, kenapa ? Karena pengemis umumnya menggunakan tipu daya untuk mengelabui si pengemudi, yang sering diterapkan salah satunya ialah membawa anak balita, padahal ada kemungkinan bahwa anak tersebut bukanlah anak si pengemis, melainkan pengemis tersebut ehm…. Dapat dikatakan ia mendapatkan anak tersebut entah darimana, lalu menggunakannya sebagai alat tipu daya. Dan semua itu dilakukannya untuk meraup kekayaan….

Adapun orang-orang terpinggirkan yang berusaha menghindarkan diri dari kegiatan mengemis, sebagai gantinya orang-orang tersebut menetapkan mata pencahariannya dengan pekerjaan lain yang lebih bermakna penuh. Yah… setidaknya daripada mengemis.

Salah satunya adalah kakek penjual koran yang belum lama ini aku temui di daerah halte Jakarta, umur beliau telah mencapai kepala 6 (64 tahun) namun semangatnya tak bisa diremehkan.

Pada waktu itu aku tengah mengendarai mobilku bertolak menuju rumah dari kantor, curah hujan pada saat itu deras sekali. Namun lantaran dilindungi atap mobil, tentu saja aku merasa nyaman walaupun Jakarta tengah dilanda hujan.

Di suatu kesempatan, ponselku berdering menyebabkan suara ringtone. Lantas aku memeriksanya, ternyata temamnku menelepon.

“Halo, bro !” ujar temanku lantang. “Lu udah selesain belum tugas tadi ?”.

“Belum, bro!” jawabku terkekeh. “Gua selesain nya dirumah aja, emang lu udah???”.

“Ohh belum yah? Sama dong !” tukas temanku. “Gua juga kerjainnya nanti dirumah, lu udah sampe mana ?”.

Aku celingak-celinguk mencari daerah yang aku berada saat ini, di sebuah halte bus aku menemukan pemetaan yang tertera “Blok M”.

“Gua masih di blok m, bro. Palingan setengah jam lagi nyampe rumah”.

“Yodah bro, udahan ya teleponnya ? Gua mau jalan lagi ni” sahut temanku agak samar akibat terpaan air hujan yang nyaring. “Tadi gua lapar jadi makan dulu di starbucks”.

“Gua matiin ya, sob” ketusku memutuskan saluran telepon.

Huuuu…. Urusan uang mah dia sombong, awas aja kalo ga selesai tugasnya dimarahin bos, wkkwkwkw, batin ku kesal.

Sebelum beranjak aku melirik halte bus tersebut sekali lagi, untuk memastikan bahwa aku benar-benar berada di daerah “Blok M” yang sebetulnya jarang kulalui.

Tampak kakek tua yang menggelar lapak koran pada tempat duduk halte, kakek tersebut memandang kesana kemari mengharapkan seorang pelanggan yang datang dan membeli koran dagangannya. Aku hanya terkejut melihatnya, kupikir mana ada sih yang mau repot-repot membeli koran pada saat hujan deras seperti ini.

Hanya beberapa saat menengok saja telah membuat hatiku iba terhadap kakek penjual koran ini, aku… aku ingin menghampiri dan membeli korannya ! Maka kubuka pintu mobil dan berlari menembus hujan menuju halte.

Reaksi kakek itu hanya melongo ketika kuutarakan keinginanku membeli koran, dari matanya aku dapat menerka bahwa kakek menangis terharu. Ia menyodorkan koran “Kompas” yang dihargai 3500 rupiah per ecerannya, sebelum aku kembali kemobil, aku sempat mengobrol dengan kakek ini.

“Kek, kok masih berjualan sih? Sekarang udah hujan lho” tanyaku polos.

Mulut kakek berkomat-kamit berusaha mengatakan sesuatu, sangat lambat. Tapi akhirnya aku menangkap apa yang dikatakannya.

“Mau pulang tapi hujan, duit ga cukup untuk beli angkot” tutur kakek pelan. “Mendingan kakek tetap berjualan, supaya keluarga nggak harus mengemis”.

Aku terperanjat mendengar akhir keterangan kakek ini, sungguh luar biasa…. mengharamkan perbuatan mengemis !

“Kek, biar saya saja yang mengantar kakek pulang” sergahku menawarkan pertolongan. “Saya ada mobil, jadi ga perlu khawatir soal duit”.

“Beneran? Rumah kakek agak jauh lho” sangsi kakek tidak yakin. “Jarang sekali ada yang nawarin kayak gini, apalagi anak muda seperti kamu…..”.

Aku hanya tertawa kecil. “Yee… itukan orang lain kek; Saya mau aja nganterin, ikhlas kok” bujukku.

Akhirnya kakek tersebut setuju, ia lantas membereskan lapak koran yang ia gelar. Koran-koran tersebut ia masukkan ke kantong plastik, aku membantu menenteng kantong plastik yang berisi koran.

Kantong plastik tersebut kuletakkan pada bagasi belakang, sedangkan sang kakek aku instruksikan untuk duduk di depan sampingku.

Benar kata kakek, perjalanan dari halte menuju rumahnya sangatlah jauh ! Yang aku lakukan hanyalah mengikuti petunjuk kakek, jadi tidak ada persoalan tersesat. Lamanya perjalanan kumanfaatkan dengan memulai percakapan dengan kakek.

“Kek, kakek udah berapa tahun jualan koran?” tanyaku penasaran.

“10 tahun, tempatnya pindah-pindah” sanggah kakek.

“Kakek mulai jualan dari jam berapa??” lanjutku bertanya.

“Dari jam 6 mulai jualan, kakek nganterin cucu dulu ke sekolah jam setengah 6” jawab kakek.

“Rentetan pertanyaan aku kemukaan kepada sang kakek, satu demi satu pertanyaan lekang dijawabnya. Rupanya kakek ini memiliki 3 cucu dari 2 anak, sedangkan istri kakek sudah wafat 6 tahun yang lalu. Membayangkannya saja membuatku sedih, hatiku tergerak untuk menolong kakek ini.

Akhirnya setelah kira-kira 2 jam kami sampai di rumah kakek, besarnya tidak seberapa, sekilas penampakan didalam rumah memprihatinkan, struktur pemetaannya ruangannya tidak teratur. Pada atap terdapat lubang-lubang yang bila diguyur hujan akan mengakibatkan bocor, khusus penerangan kakek masih menggunakan lentera minyak yang sangat berbahaya mengingat sebagian perabot didominasi bahan kayu.

Di rumah ini tidak terdapat ruang duduk untuk tamu, jadi mau tidak mau aku harus bersila di lantai tanah, dilapisi alas karpet yang kakek gelar namun keadaannya tak ubahnya seperti atap (berlubang).

“Anak kakek tinggal dimana?” tanyaku memulai percakapan.

“Semua udah punya keluarga” celetuk kakek pelan.

“Berarti udah punya rumah ‘kan ?” selidikku.

“Ya” jawab kakek singkat. “Rumahnya bagus ga kayak rumah kakek”.

“Kenapa kakek ga tinggal di rumah mereka aja?” sambungku heran.

“Mereka ga mau menampung kakek untuk tinggal bareng” pinta kakek. “Enggak tau kenapa”.

“Ya allah, tega banget anaknya” geramku marah mendengar pernyataan kakek.

“Enggak apa-apa, biar aja kakek tinggal disini” sahut kakek.

Aku masih gemas dengan tingkah laku anak kakek yang bertindak semena-mena, sudah sepatutnya anak menyambut orang tua dengan tangan terbuka lagi kasih sayang. Lha? Ini malah ga mau, kurang ajar tuh perilaku anaknya.

Menyimak ceritanya yang nyesek, akhirnya hatiku tergerak untuk menlong kakek penjual koran ini. Spontan aku merogoh dompetku dan mengeluarkan 2 lembar uang senilai 100 ribu rupiah, lalu kusodorkan uang tersebut kepada kakek, reaksi kakek tercengang dengan peristiwa ini.

“Untuk apa duit ini, anak muda?” tanya kakek tidak percaya.

“Kek, ini sedekah duit dari saya untuk kakek” pintaku menyodorkan uang. “Masih kecil sih… tapi kapan-kapan saya kasih sembako untuk kakek”.

“Beneran ni? Untuk kakek?” timpal kakek melongo.

“Iya…. Ikhlas kok saya” ujarku mantap.

Selama beberapa detik kakek menatap dalam-dalam mataku, agaknya ia sedang sibuk mencari-cari sinar ketulusan/keikhlasan dimataku. Setelah sorot matanya melekat cukup lama pada mataku, tak disangka ia menangis sesenggukan sembari memelukku.

“Terima kasih anak muda … ! sungguh belum ada yang pernah ngasih uang sebanyak ini ke kakek” isaknya terharu. “Semoga Allah melimpahkan rahmat dan karuniaNya kepada mu!!! Terima kasih… huhuhu !”.

“I-iya kek….” ungkapku menenangkan kakek ini.

Ah… indahnya melihat orang lain bahagia…

Tamat