Jelajah kampung pecah kulit

Dua hari yang lalu, aku dan keluarga pergi berkunjung ke program “Jelajah Kampung Pecah Kulit” yang diprakarsai oleh suatu organisasi pecinta sejarah bernama “Heritage Trails”.

Pertama kali mendengar nama kampung yang agak aneh ini, tercuat suatu pemikiran dalam benakku. Apa maksudnya ya pecah kulit, memang ada kampung yang memiliki kulit yaa?.

Bagi kalian yang belum mengetahui perihal kampung ‘unik’ ini, asal-usul nama kampung ini mengacu pada eksekusi 19 orang yang dianggap sebagai ancaman sebab diduga akan melakukan makar/pemberontakan pada pemerintahan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie). Aksi pemberontakan ini dikepalai oleh seorang berkebangsaan Jerman-Siam, yaitu Pieter Erberveld. Kampung tempat makam para korban eksekusi ini sekarang dinamakan “Kampung Pecah Kulit”, konon karena kulit Elberveld terkelupas akibat hukuman itu.

Event ini mengharuskan pesertanya untuk berjalan kaki menyusuri jarak yang cukup jauh, yakni 4km, namun hal itu tidak tidak menjadi halangan bagi orang tuaku yang berambisi akan event ini, lebih-lebih kakakku sangat bersemangat mengingat hobinya ialah menikmati sejarah, serta bercita-cita menjadi sejarahwan kelak besar nanti.

Berbeda denganku yang mempunyai hobi bertolak belakang dari kakakku, aku sama sekali tidak berminat mengikuti acara yang mengangkat tema ‘sejarah’, lagipula ini disebabkan oleh hobiku yang girang menggeluti dunia teknologi serta yang berhubungan dengan IT (Information Technology).

Untuk ikut andil berpartisipasi dalam program ini, kamu pertama-tama harus memboyong sebuah tiket masuk, tidak perlu khawatir merogoh kocek yang tidak sedikit. “Heritage Trails” sebagai organisasi yang menopang program ini, menetapkan harga tiket ke Rp 0,00 dari yang tadinya Rp 225.000,00, lantas acara ini tidak dikenakan biaya sepeserpun.

Rupanya ini salah satu upaya “Heritage Trails” untuk membagi nilai-nilai yang terkandung di dalam setiap cerita dan peristiwa, dibalik sebuah bangunan tua, museum, artefak dan situs sejarah. Singkat kata makna mereka mengadakan program ini secara gratis ialah agar masyarakat Indonesia lebih melirik, mengidentifikasi, mempelajari potensi dan meraih manfaat dari warisan sejarah dan budaya  bangsa kita yang sangat melimpah.

Aku dan keluargaku menerima tiket tersebut pada 8 hari sebelum program itu diselenggarakan, yakni pada 11 Februari, sedangkan Walking Tour ini digelar pada Minggu, 19 Februari. Lantaran biaya tiket gratis, kami harus memesannya jauh-jauh hari sebelum akhirnya program ini dilaksanakan. Jumlah tiket yang tersedia kala itu adalah 207 dari 300 tiket total.

Demikianlah kami sekeluarga mengatur rencana mengunjungi event Walking Tour ,  ini kesekian kalinya kami bepergian ke tempat-tempat sejarah, pula acara yang mengangkat tema lawas. Maka sama halnya dengan kakakku yang sudah tidak sabar lagi ingin menjejakan kaki, bercengkrama dengan penikmat sejarah lainnya, bahkan setiap malam kakakku mencoret tanggal yang sudah berlalu di kalender.

Alhasil hari yang ditunggu-tunggu tiba juga, aku harus bangun kira-kira jam 05.30 mengingat program ini berlangsung dari Jam 08.00 – 12.00, sementara itu tempat tinggalku berada di Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten. Jarak tempatku menuju Taman Fatahillah (tempat berkumpul para peserta) bisa saja memakan waktu 2 Jam lebih, belum lagi keadaan jalan-jalan yang hampir selalu macet akibat kendaraan bermotor. Ibuku sengaja menyiapkan bekal homemade untuk dibawa pergi, kata ibuku sih agar nggak repot kalau makan siang.

Kami tiba di tujuan sekitar jam 08.16 pagi, ayahku sudah khawatir saja jangan-jangan kita telat…. namun nyatanya tidak, masih ada calon peserta lain tengah mengantri di tenda pendaftaran ulang.

Bila memesan tiket, kamu akan dikirimi 2 email dengan subyek bebeda, yakni ucapan terimakasih dan telah dikonfirmasikan. Email pertama adalah sebagai ucapan terimakasih karena sudah ikut andil dalam program ini, sedangkan yang satu lagi adalah pemberitahun bahwa tiketnya valid dan seyogyanya digunakan untuk program ini kelak.

Tiket valid tersebut nantinya akan dikonfirmasi ulang oleh petugas yang menuntun jalannya pendaftaran ulang, serahkan hpmu dalam keadaan nyala dan terpampang foto tiket dari email. Dan petugasnya akan memvalidasi tiket tersebut, lalu memintamu menunggu hingga semua peserta telah terdaftar ulang.

Segelintir peserta yang sudah melakukan pendaftaran ulang akan digiring ke tengah-tengah hamparan luas keramik (CMIIW) kota tua, disana mereka disambut oleh pak Asep Kambali, ketua Komunitas Historia Indonesia. Peran pak Asep di program ini adalah selaku narasumber, menilik profesinya adalah sejarahwan.

Pak Asep mengutarakan sebuah pidato singkat perihal sejarah, salah satu statement-nya adalah:

Untuk menghancurkan sebuah bangsa tidak perlu  membombardir negara tersebut. Cukup hancurkan ingatan sejarah generasi mudanya.

Kalau dipikir-pikir, benar juga ya. Dengan melupakan sejarah, manusia manapun tidak akan mengingat jati diri mereka dahulu, sehingga negara lain bisa dengan mudahnya memobilisasi manusia-manusia yang miskin sejarah.

Seusai pidato, pak Asep mengintruksikan beberapa sukarelawan dari instasi berbeda serta profesi berbeda, untuk memandu peserta yang kelak akan dibagi ke 5 kelompok berbeda. Yakni Biru (kelompokku), Kuning, Abu-abu, Ungu dan Hijau. Setelah prosesi pembagian dilaksanakan, kelompok kami akhirnya dipandu oleh mbak Ratih, seorang perempuan yang bekerja di Kompas (CMIIW).

Sesaat setelah masing-masing kelompok berembuk singkat, kerumunan peserta akhirnya bertolak jalan berkeliling caragar sejarah di daerah Jakarta Pusat dengan pemandu menjelaskan setiap destinasi sejarah yang kami datangi.

Perjalanan dimulai melalui Stasiun Jakarta Kota, tidak lupa sejarah singkat yang meniti berdirinya stasiun pada tahun 1870 hingga kini (2017).

“Jadi stasiun ini dibangun pada tahun 1870 dan dirancang oleh seorang arsitek kelahiran Tulungagung bernama Frans Johan Lowrens Ghijsels, walaupun dinamakan “Stasiun Jakarta Kota” semenjak berdiri, tetapi stasiun ini lebih dikenal dengan sebutan “Stasiun Kota”. Lalu stasiun ini juga memegang predikat sebagai stasiun terbesar se-Indonesia” tutur mbak Ratih. “Ada yang ingin bertanya ?”.

Seketika suasana menjadi hening sejenak, akan tetapi salah seorang dari kelompokku mengacungkan tangan, tanda ia ingin menanyakan pertanyaan.

“Mbak, mbak… aku baca di internet, stasiun ini juga dikenal pula dengan julukan stasiun Beos” tanya seorang mahasiswa laki-laki. “Beos diambil dari apa ya? Apakah ada referensi nama dari Jakarta atau daerah lain di Indonesia ?”.

“Bagus pertanyaan kakak ini !” sahut mbak Ratih. “Jadi Beos itu diambil dari singkatan Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij, atau dalam bahasa Indonesia yang berarti Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur”.

Oohh, baru tahu aku Stasiun Kota mempunyai nama lawas, terlebih fakta bahwa rancangan Stasiun Kota di desain oleh salah satu arsitek berkebangsaan belanda merupakan hal wajar bagiku. Mengapa begitu ? sebab sebagian besar bangunan arsitektur yang berdiri pada tahun 1700-an hingga 1800-an didalangi oleh arsitek Belanda. Maka tak heran lagi bila bangunan tersebut masih kokoh hingga kini, berkat arsitek-arsitek yang mumpuni di bidangnya.

Seusai menerangkan penjelasan, perjalanan pun dilanjutkan, kelompok kami bertolak menuju sebuah jembatan yang berbahan dasar batu. Jembatan ini dibangun pada tahun 1600-an, salah satu keistimewaan jembatan ini adalah sebagai salah satu saksi bisu penyerbuan ekspansi pulau Jawa oleh Raja Mataram, Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Tujuan penyerbuan tersebut ialah untuk mengusir VOC dari pulau Jawa, diawali dengan upaya menjalin hubungan dengan VOC yang secara terang-terangan ditolak, hingga akhirnya tercipta sejarah 2 fase penyerangan pasukan Mataram ke Batavia, sayangnya invasi besar-besaran itu berakhir dengan kegagalan.

Dulu jembatan batu bernama Jassenburg, disini pemuda-pemudi tempo dulu bersantai di malam hari. Para pemuda jualan suara sambil memetik gitar, merayu gadis-gadis yang “mejeng” yang kebanyakan dari mereka adalah seorang beretnis Tionghoa.

Kemudian, kami digiring menuju gereja tua yang bernama Gereja Sion, lokasinya tidak jauh dari jembatan batu sebelumnya. Gereja Sion dikenal juga dengan nama Portugeesche Buitenkerk atau Gereja Portugis, berdiri sejak abad 17 tahun 1695. Cerita lengkap pemberkatan gereja dapat dilihat pada dinding gereja, tercantum di sebuah papan peringatan, namun cerita tersebut ditulis dalam bahasa Belanda.

Merupakan gedung tertua di Jakarta yang masih dimanfaatkan hingga kini untuk tujuan pada awal didirikan, yakni sebagai tempat beribadah umat Kristiani.

Semula gereja ini bernama Portugese Buitenkerk, yang kurang lebih artinya “Gereja Portugis diluar” (tembok kota). Akan tetapi setelah Indonesia merdeka, gereja ini berganti nama menjadi Gereja Portugis, nama yang kita kenal sekarang ini dilandasi dalam sebuah persidangan sinode GPIB (Gereja Protestan Indonesia di bagian Barat), hasil akhir dari persidangan tersebut memutuskan untuk mengubah nama dari Gereja Portugis menjadi GPIB Jemaat Sion.

Pembangunan Gereja ini diprakarsai oleh komunitas Mardijkers atau Portugis Hitam, adalah istilah untuk orang-orang mantan anggota tentara Portugis dan keturunan India, serta dikenal sebagai budak keturunan Afrika di Batavia. Menjelaskan kenapa lazimnya seorang Mardjikers memiliki kulit hitam.

Arsitektur gereja ini menyuguhkan gaya istana, dengan lampu gantung (Chandelier), serta dipadu oleh deretan kursi yang berukiran bagus dan bangku dari kayu hitam atau eboni masih dipakai. Selain itu terdapat pula organ seruling gereja yang masih terawat dengan baik, pemberian putri seorang pendeta bernama John Maurits Moor.

Destinasi berikutnya ialah bangunan rumah Pieter Erberveld (sekarang adalah bangunan Toyota), seorang berkebangsaan Eurasia (Eropa dan Asia) yang dihukum mati oleh pihak VOC lantaran dianggap mengepalai konspirasi dan sejumlah kekacauan yang bertujuan merencakan makar/pemberontakan kepada pemerintahan VOC.

Beliau bersekongkol dengan beberapa pejabat banten, salah satunya ialah Raden Ateng Kertadria, untuk membunuhi orang Belanda pada perayaan pesta. Pula ia dituduh membujuk orang-orang keturunan Surapati di Jawa Timur, sampai kini tidak diketahui apa motif beliau sebenarnya. Ada sumber mengatakan bahwa beliau ingin membantu orang Banten yang dipimpin raden Ateng menguasai kembali Batavia, atau ia memiliki rencana pribadi.

Rencana makar ini bocor sebab ada budak yang melapor ke pihak VOC. Ada pula versi lain yang mengatakan, Sultan Banten-lah yang membeberkan rencana keji ini, khawatir akan pengaruh Erberveld dan raden Ateng yang akan mencaplok kekuasaannya sebagai sultan.

Pieter Erberveld, bersama raden Ateng dan 17 orang lainnya, dieksekusi di Jalan Jakarta ini dengan cara yang amat sadis. Yaitu tangan dan kakinya diikatan ke kuda dan ditarik keempat arah yang berbeda. Jenazah Pieter kemudian dimakamkan di rumahnya.

Lalu raden Ateng Kertradia disemayamkan di bangunan daerah di jalan Pangeran Jayakarta. Kami menyempatkan diri untuk mengunjungi makam tersebut, letak makam adalah didalam mushola kecil yang agaknya dikhususkan untuk raden Ateng seorang diri. Untuk mencapai mushola tersebut, diharuskan untuk melalui gang sempit yang sejatinya merupakan satu-satunya jalan untuk menuju mushola.

Terpampang sebuah papan penanda dengan tulisan hijau tua berlatar belakang putih menyambut kedatangan kelompok kami, bait pertama bertuliskan “Makam Keramat Pangeran Jayakarta (Rd. Ateng Kertradia). Tepat disamping mushola tempat makam tersebut, terdapat sebuah rumah kecil yang kukira adalah keluarga dari Rd. Ateng.

Dalam mushola tersebut, kamu dapat melihat makam sang raden yang dimakamkan secara bertumpuk, itu menjelaskan kenapa bentuk makam tersebut adalah gundukan kecil. Konon, ini dikarenakan tubuhnya yang hancur dikoyak akibat eksekusi naas.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke makam Kapitan Souw Beng Kong, kabarnya beliau adalah kapitan keturunan Cina pertama di Batavia. Untuk menyambangi makam beliau, kami harus melewati gang, sama seperti sebelumnya. Namun bedanya makam beliau dikelilingi oleh pagar besi, dan sejatinya dipelihara oleh yayasan yang bernama yayasan Souw Beng Kong. Tapi lebih sering warga sih, untuk pemeliharaannya.

“Okee… napak tilas kita akhiri disini ya, sudah ngerti teman-teman ??” tanya mbak Ratih.

“Ngertii…!” seru kelompok kami serempak.

“Saya mohon maaf bila ada kesalahan dalam menuturkan, maupun secara lisan” ungkap mbak Ratih tertunduk.

“Oke, kami maafkan !” spontan ayahku.

Memang sih, mbak Ratih terbata-bata sewaktu menerangkan setiap destinasi, dan kami semua mengetahui nya. Well… at least she try.