Jelajah stasiun kereta api

Kereta api adalah salah satu moda transportasi yang masih banyak diandalkan oleh orang, dengan julukan ‘Ular Besi’ menambahkan kesan aeroganis pada jenis transportasi yang satu ini. Salah satu keunggulan kereta api ialah kemampuan untuk mengangkut penumpang dalam jumlah yang tidak sedikit dalam sekali pergi, maka tak heran lagi bila si ‘Ular Besi’ ini pantas menyandang titel alat transportasi massal.

Tahun demi tahun, seiring dengan pergantian pemimpin dan kemajuan teknologi, moda transportasi di Indonesia sedikit demi sedikit dikembangkan. Terutama moda kereta api yang keberadaannya sangat dibutuhkan oleh sebagian besar penduduk, bukti atas pengembangan ini dapat dilihat dari beberapa perubahan dalam fisik keseluruhan kereta api.

Sebab apabila diamati secara rinci, dapat disimpulkan bahwa kereta api ikut serta meniti tali arus perubahan zaman, benar-benar kenyataan yang tak bisa dipungkiri.

Aku mengalami hal ini pada beberapa hari yang lalu, ketika itu kami sekeluarga tengah memanfaatkan hari libur sabtu untuk melancong menggunakan transportasi kereta api. Di tengah pelancongan, kami melalui beberapa stasiun-stasiun yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan (berdasarkan hasil tinjauan ‘amatir’ ku :D). Adapun list stasiun-stasiun yang kami lewati, mencakup:

  1. Rawa Buntu – Tanah Abang
  2. Tanah Abang – Kampung Bandan
  3. Kampung Bandan – Tanjung Priok
  4. Tanjung Priok – Jakarta Kota
  5. Jakarta Kota – Manggarai
  6. Manggarai – Bogor
  7. Bogor – Tanah Abang
  8. Tanah Abang – Rawa Buntu

Oh ya, tujuan utama kami sekeluarga dalam jalan-jalan ini adalah untuk mengunjungi stasiun Tanjung Priok dan stasiun Bogor, mengingat kedua stasiun tersebut adalah stasiun yang cukup berumur (stasiun Tanjung Priok diresmikan pada tahun 1885, sementara itu stasiun Bogor dibangun pada tahun 1881).

Peta Rute KRL Jabodetabek

1. Stasiun Tanah Abang

Stasiun Tanah Abang (1975) (https://id.wikipedia.org)

Berletak di jalan Jatibaru, Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Lokasinya berdekatan dengan pusat perbelanjaan Tanah Abang, dengan jarak tenggat yang kurang dari 4km, membuat stasiun ini kerap dipadati oleh ibu-ibu seusai berbelanja. Terlebih bagi orang yang hendak menyambangi pasar tersebut, biasanya mereka lebih mengandalkan penggunaan kereta, mengingat salah satu keunggulan si ‘Ular Besi’ adalah penghematan waktu ketimbang saat naik mobil.

Diresmikan pada tahun 1910 oleh perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda, yakni Batavia Oosterspoorweg (BOS). Bangunan asli stasiun ini dibongkar/renovasi pada tahun 1995, hingga menjadi bangunan bertingkat dua seperti yang kita kenal sekarang.

Baru-baru ini Pt. KAI mendirikan JPO (Jembatan Penyeberangan Orang) antar peron, sehingga memudahkan para penumpang yang ingin melintas antar peron, tanpa perlu melalui jalur rel kereta. Benar-benar hal yang melegakan !

2. Stasiun Kampung Bandan

Digadang-gadang sebagai satu-satunya stasiun kereta api di Indonesia yang memiliki jalur atas dan jalur bawah. Perlu dicatat, jalur bawah menuju Senen, sedangkan jalur atas menuju Ancol.

Untuk urusan lokasi, sebetulnya stasiun Kampung Bandan berada di kawasan strategis, dekat dengan pusat bisnis serta perbelanjaan elektronik dan komputer Mangga Dua.

Sayangnya meskipun berletak di kawasan yang menguntungkan, hal ini tidak memicu adanya perubahan pada stasiun ini, miskinnya fasilitan dan sarana mungkin salah satu alasan mengapa stasiun ini seringkali tidak berpenghuni. Buktinya sewaktu aku singgah di stasiun ini, cuma ada 3-4 orang yang tengah menunggu kereta.

Padahal, sejarah mencatat bahwa stasiun Kampung Bandan adalah stasiun kereta barang pertama di Indonesia. Namun agaknya kenyataan itu telah pudar di benak orang, ditambah lagi dengan reputasi buruk yang menyeruak stasiun ini.

Terdapat pula tumpukan sampah didekat stasiun ini, meninggalkan kesan kurang enak dilihat di mata.

3. Stasiun Tanjung Priok

IMG_20170325_121254

Stasiun Tanjung Priok (tampak dalam).

Merupakan salah satu stasiun tertua di Indonesia, tercatat 2 peristiwa periode berbeda yang ikut mengiringi keberadaan stasiun ini, yaitu:

- Periode pertama

Terjadi ketika stasiun ini tepat berada di dermaga pelabuhan Tanjung Priok. Dibangun pada tahun 1883 oleh Departemen Pekerjaan Umum Hindia Belanda, lalu diresmikan secara publik pada tahun 1885, serentak dengan peresmian pelabuhan Tanjung Priok.

- Periode kedua

Akhir 1800-an, aktivitas di pelabuhan Tanjung Priok kian meningkat, sehingga terjadi okupasi area pelabuhan yang menyebabkan area stasiun digusur. Melihat hal ini, Staatsspoorwegen (perusahaan kereta api Belanda) cepat bertindak, sebagai gantinya mereka membangun stasiun baru yang lebih megah pada tahun 1914. Salah satu arsitek SS ditugaskan untuk menyokong pembangunan tersebut, ia bernama Ir. C.W. Koch.

Stasiun Tanjung Priok.

Stasiun Tanjung Priok.

Stasiun ini sempat merasakan pahitnya ‘mati suri’ selama 26 tahun, disebabkan oleh penutupan stasiun ini pada tahun 1989. Akan tetapi, dibuka kembali untuk umum akhir tahun 2015. Perlahan tapi pasti, stasiun Tanjung Priok bangkit dari ‘mati suri’ dan mulai menyongsong penumpang kereta api. Mula-mula penumpang yang naik ke jurusan ini masih sangat sepi, namun setiap bulan jumlahnya bertambah, walau tidak signifikan.

4. Stasiun Jakarta Kota

Stasiun Jakarta Kota.

Stasiun ini dikatakan sebagai stasiun terbesar di Indonesia, dan juga termasuk dalam tipe terminus, yaitu istilah bagi stasiun yang tidak mempunyai jalur lanjutan lagi.

Dari seluruh stasiun yang diulas pada tulisan ini, menurutku stasiun Jakarta Kota pantas menyandang predikat stasiun terbaik (berdasarkan tinjauanku). Dengan banyaknya baik restoran maupun kedai-kedai kecil yang membuka usaha disini, serta fasilitas dan sarana yang memadai, tentu membuat euforia nyaman pada penumpang kereta.

Laksana masih difungsikan dengan baik, disana-sini terlihat aspek yang kurang terawat. Demikian pula dengan kebersihannya, sampah seringkali ditemukan berserakan di rel-rel kereta. Selain itu tidak sedikit orang yang kurang peduli akan kebersihan, seenaknya membuang sampah sembarangan ketika ada tong sampah disediakan di sudut vital stasiun.

Apalah arti sebuah sejarah besar, apabila masyarakat sekitar tidak menghargainya ?

5. Stasiun Manggarai

Stasiun Manggarai.

Sejak selesai dibangun pada tahun 1918, tidak ada perubahan yang mencolok dalam fisik stasiun Manggarai. Salah satu peristiwa menarik yang mendera stasiun ini ialah sewaktu bangunan masih dalam tahap pembuatan, atap besi yang diperlukan untuk menadah penumpang tidak bisa diantar karena meletusnya perang dunia 1.

Fasilitas yang baru-baru ini rampung dibangun, ialah underpass untuk menyeberang antar peron. Berbeda dari stasiun tanah abang dengan JPO-nya yang memungkinkan penumpang untuk melintasi antar peron dari atas. Di beberapa sudut, sudah ada pembangunan sebagai tempat eskalator. Namun belum terpasang.

Jumlah penumpang naik dan turun yang banyak membuat perusahaan restoran dan pertokoan franchise membuka cabang di sini; seperti KFC, Starbucks, 7-Eleven, Circle K, dan Roti’O. Not bad lah….

7. Stasiun Bogor

IMG_20170325_155950

Dahulu bernama Stasiun Buitenzorg, istilah Buitenzorg sendiri adalah penyebutan bagi kota Bogor oleh warga Belanda. Disamping itu, stasiun ini termasuk dalam jajaran stasiun KA tertua di Indoensia, tercatat dibangun tahun 1872 dan mulai dioperasikan secara umum pada tahun 1873. Dibangun oleh Staatsspoorwegen, sama halnya dengan beberapa stasiun sebelumnya.

Didirikan sebagai stasiun terakhir untuk jalur Batavia-Buitenzorg-Weltevreden-Depok, tujuannya antara lain untuk mempersingkat lama perjalanan, yang saat itu masih menggunakan kereta kuda untuk melayani penumpang hilir-mudik.

Menaungi gaya arsitektur ala Eropa, agaknya model banguan serupa sempat menjadi tren di Hindia Belanda tahun 1880-1889. Untungnya Pt. KCJ selaku pengelola, tetap ingin mempertahankan nilai historis stasiun Bogor.

Telah dilakukan beberapa pembenahan yang seluruhnya tidak megusik keberadaan aspek-aspek antik disini, hal ini terbukti dari pintu kayu khas Eropa yang hingga sekarang masih dirawat dengan baik. Beberapa upaya telah dilakukan sang pengelola untuk melindungi nilai estetika stasiun ini.

Stasiun Bogor Tempo Dulu. (https:://id.wikipedia.org)