Saling butuh ?

“Ka! Oper bolanya ke sini, cepat !” pinta Rafi. “Biar aku gol-in aja”.

Mendengar hal itu, Raka yang sedari tadi tengah menggiring bola—seketika melambungkan bola tersebut kepada Rafi. Hingga Rafi menerimanya dengan sundulan kepala ke arah gawang, dan…. GOL!!!!

“GOL…!!!!!!!!!!!” seru Raka dan Rafi serempak, diiringi dengan selebrasi mantap. Di sisi lain, tim lawan hanya bisa tersenyum kecut melihat kejadian itu.

“Oke, jadi skornya… 2-1 !” sahut Dendi yang berada di pihak lawan. “Ya—kick off lagi, mana bolanya kemarikan”.

Tepat pada saat itu, datanglah seorang anak yang sebaya dengan Raka dan kawannya.

“Raka..!! Ka..!!” seru sosok tersebut. Ia berdiri di tepi lapangan. ” Rakaaa..!!”.

Raka celingukan mencari dari mana asal suaranya, sampai mendapati sosok anak dari tepi lapangan yang rupanya adalah si pemanggil. Raka memicingkan mata untuk memperjelas penglihatannya. Detik berikutnya tersirat sebuah ekspresi masam di wajahnya.

“Ka, dia manggil kamu. Temanmu ya?” ujar Dendi. Raka menganggguk dengan tampang masam.

Sosok itu tidak lain adalah Danu, merupakan teman sekelas Raka di sekolahnya, dalam hubungan sosial keduanya tidak akrab—terlebih peristiwa kekalahan tim bola sekolah mereka yang diakibatkan oleh Danu, semenjak itu ia selalu dilarang ikut andil dalam tim kesebelasan sekolah.

“Tunggu” kata Raka singkat kepada temannya, ia kemudian berjalan menghampiri Danu yang masih menunggu di tepi.

“Ka, aku boleh ikutan nggak?” tanya Danu penuh harap.

Raka memandangnya dengan ragu, sebetulnya ia tidak sampai hati untuk menolak permintaannya, tetapi sekali ini saja ia tidak ingin permainannya terganggu sebab beberapa hari lagi diadakan UTS di sekolahnya—dan hari ini adalah hari terakhir ia diperbolehkan main dilapangan.

“Nggak bisa, maaf” ujar Raka singkat. Dipandangnya Danu yang tampak kecewa dengan jawaban tersebut.

“Alaa… kenapa, Ka?” keluh Danu. “Kok nggak boleh?”.

“Sudah penuh pemain” cetus Raka, yang kemudian bertolak ke lapangan tanpa mempedulikan Danu.

Seusai itu, Raka bergabung kembali dengan kawannya di lapangan, sementara itu Danu hanya bisa melongo dari kejauhan perihal sikap Raka yang tidak etis menurutnya. Ah, pemainnya berjumlah ganjil, kok nggak boleh ikut sih ?!, batin Raka.

Permainan bola berjalan cukup lancar, tak ada gangguan sama sekali di sela-sela permainan—seperti yang diharapkan Raka. Ia sesekali menengok ke tempat Danu berada, yang kedapatan tengah menyaksikan pertandingan. Hmph, rupanya dia belum pergi…. tak apa lah yang penting nggak ganggu, pikir Raka.

Sayangnya euforia tersebut tidak berlangsung lama, ketika bola yang tengah dimainkan oleh Raka dan kawannya terlempar jauh hingga ke tepi dimana Danu masih menonton. Melihat kesempatan itu, Danu dengan serta-merta meraih bola tersebut lalu berlari menuju lapangan.

“Nih bolanya, Ka” kata Danu, mengulurkan bola kepada Raka.

“Terima kasih” sahut Raka hendak mengambil bolanya, tapi Danu menepis tangannya.

“Eh… aku ikutan ya, Ka!” celetuk Danu spontan, ia meletakkan bolanya di tanah dan memainkannya. “Semuanya ! kalian kedatangan pemain baru”.

Teman-teman Raka tidak keberatan dengan pergantian yang tak disangka ini, hanya Raka saja yang  jengkel dengan kelakuan spontan Danu, tapi demi kelancaran pertandingan—ia tidak mengutarakan perasaannya.

Seiring berjalannya permainan, teman-teman Raka dibuat kesal dengan ulah Danu yang seringkali salah mengoper, tendangannya luput dari sasaran, lemparannya tidak tepat, dan hal-hal lainnya.

“Eh..! salah oper !” kata Danu. “Sorry ya Rafi !”.

Rafi menggerutu menimpali sikap kawan setimnya itu, permainan seakan menjadi lebih sulit dengan hadirnya Danu. Raka pun merasakan hal yang sama, ketentraman yang semula menyenangkan kini sirna karena Danu. Rafi membujuk Raka sebagai teman sekelas Danu untuk mengeluarkannya dari permainan, Raka menyetujui usul tersebut.

“Danu” panggil Raka.

“Iya, Ka ?” jawab Danu, menghampiri Raka.

“Ehm, sudah jam setengah 5 lho” ujar Raka, mencari-cari alasan tepat. “Kamu nggak disuruh pulang sama ibumu ?”.

“Nggak lah! Aku pulangnya nanti jam 5-an” kata Danu, seolah tidak terjadi apa-apa. “Memangnya kenapa ?”.

“Nggak apa-apa, cuma penasaran aja kapan kamu pulangnya” sergah Raka.

“Kok gitu, sih ?” dengus Danu heran. “Kalau aku pulang kenapa memangnya ?”.

“Yaaa, nggak ada apa-apa sih” gerutu Raka dalam hati. “Tapi kami nggak suka kalau kamu ikut main”.

“Hah ?! Memangnya kalau aku main kenapa ? Ganggu ya?” cecar Danu bingung.

“Soalnya… ermmm…. anuuuu….” gumam Raka memilih kata yang tepat. “Gimana ya….?”.

“Ngomong aja kenapa..!” desak Danu.

Kamu mainnya nggak bener” ujar Raka berterus terang. “Salah oper mulu, nggak bisa nendang.. payah! nyesal aku tadi biarin kamu ikut main !“.

Danu agaknya terkejut dengan penuturan Raka yang terdengar rude, tidak enak mengetahui dirinya menjadi gangguan kepada teman-temannya. Akan tetapi di sisi lain, Danu juga merasa tersinggung dengan komentar Raka.

Ah, kayak kamu paling jago main bola aja” cetus Danu. “Huh, dasar sombong“.

Danu kemudian berlari menuju rumahnya yang tidak jauh dari lapangan tempat Raka bermain, memang keduanya tinggal dalam satu perumahan yang sama. Meskipun sudah terbilang menghina, hati Raka puas berhasil ‘mengusir’ Danu. Menurutnya sudah selayaknya Danu diperlakukan demikian, mengingat sikapnya yang tidak menyenangkan ! (HAH?)

Lalu Raka dan kawan-kawannya kembali bermain bola dengan tenang, tanpa rongrongan Danu….

Beberapa waktu kemudian, Raka meminta diri untuk pulang ke kawan-kawannya, terlebih beberapa hari lagi ulangan tengah semester akan diselenggarakan di sekolahnya. Raka ingat, ia pernah membuat janji dengan ayahnya bahwa “Bila aku mendapatkan nilai 90 keatas di semua pelajaran pada UTS ini, nanti ayah harus beliin game baru ya!” yang disetujui ayahnya, maka itu tidak ada waktu bermalas-malasan…. demi game baru.

Keesokan harinya, usai tiba di sekolah, Raka mendatangi ruang kelas 5 C tempatnya. Disana ia celingukan mencari salah seorang sahabat karibnya, biasanya ia duduk tepat di belakang mejanya. Theo namanya, Raka dan Theo bersama 2 orang lainnya telah bersahabat sejak Raka kelas 2—di kelompok persahabatan mereka, Theo terbilang sebagai anak yang paling cerdas/pintar di antara mereka semua. Maka itu setiap event ulangan, Theo adalah makhluk yang paling diprioritaskan di jagad bumi, dan sekarang makhluk itu nowhere to be seen.

Aneh, biasanya Theo paling awal datangnya.., pikir Raka. Ia khawatir bila Theo tidak datang, UTS kali ini berlangsung berantakan.

Raka semakin cemas ketika bel sekolah berbunyi, menandakan siswa untuk masuk kelas masing-masing, dan Theo masih ‘menghilang’ ! Pandangannya terpaku ke pintu masuk kelas, seraya berharap Theo untuk melalui pintu tersebut. Ciko, yang merupakan sahabat Raka, mengetahui kegelisahan sahabatnya yang satu ini. Ia lantas bertanya.

“Ada apa, Ka? Kok kayaknya gelisah banget ?” tanya Ciko heran.

“Ini lho, Cik ! Kok si Einstein nggak dateng-dateng sih?” desah Raka, pandangannya masih terpaku ke pintu kelas.

“Ohh… dia lagi izin nggak datang” tutur Ciko. “Izin nengok saudaranya yang meninggal”.

“APAAA??!?!” pekik Raka lantang, ia terbelalak mendengar penjelasan Ciko.

Kekecewaan yang melanda secara tiba-tiba seakan-akan menyebabkan semangat Raka roboh diterpa angin. Ia hanya memikirkan 2 kemungkinan saja: belajar kelompok disertai Theo, atau sama sekali tidak belajar kelompok.

“Hey, hey.. kok tiba-tiba teriak ?” sela Ciko menutup telinganya. “Lama-lama bisa tuli aku didekatmu”.

“Theo mangkir ?? Dia nggak datang?!?!” gagap Raka panik, seolah terjadi malapetaka besar. “Lalu gimana kerja kelompoknya ??!”.

Ciko pun nampaknya bingung menanggapi kepanikan Raka yang sama sekali tidak beralasan, ia berpendapat bahwa Raka hanya mengandalkan Theo—padahal banyak siswa lain yang bisa diajak bersama.

“Mukamu kayak dunia mau berakhir aja deh, lucu haha” canda Ciko seraya menepuk punggung Raka.

“Bagaimana nggak panik ? Memangnya kamu tahu anak yang mempunyai kemampuan dan level sebanding dengan Theo ?” cecar Raka.

“Hmm… Ada tuh, contohnya Danu” jawab Ciko enteng. “Aku dengar dia juga honor student, sama halnya seperti Theo”.

Danu ??! Anak yang kemarin ngotot ingin ikut main, lancang ikutan tanpa persetujuan, mengganggu permainan bola ?? Nggak salah apa?? Bisa-bisanya Danu terpikir dalam sanubari Ciko, ditambah.. memangnya Danu sepintar Theo dalam hal akademis ? Aku belum pernah bekerja sama dengannya, tapi…. ah nggak mungkin lah, batin Theo.