Pengalaman konfigurasi server HP UEFI/RAID1 HDD

Beberapa hari yang lalu aku mendapat mandat dari ayahku untuk membantunya menginstall Ubuntu Server 14.04 di sebuah device yang dipinjamkan oleh kliennya. Berhubung device yang dikerjakan berupa perangkat pc server dengan nama produk HP Proliant ML150 G9, maka cara pengerjaannya pun sedikit berbeda dengan pc/laptop biasa.

Server yang merupakan suatu unit komputer yang berfungsi untuk menyimpan informasi dan mengelola jaringan – jaringan, mempunyai kegunaan yang berbeda dengan pc/laptop. Server digunakan untuk melayani client-client yang terhubung dengan jaringannya, sedangkan pc dan laptop memiliki kesamaan tersendiri yaitu keduanya bersifat personal-use.

Pada umumnya, server memiliki jumlah HDD yang lebih dari 1, hal ini disanyilir oleh karena mengantisipasi kelebihan data-data yang disimpan pada serverServer juga dikenal memiliki kapasitas RAM yang besar untuk melayani segelintir proses – proses yang dijalankan oleh client-client daripada server itu sendiri.

Pada server yang dikerjakan olehku, tampak slot HDD yang berada pada sisi utama server, bersama dengan tombol On/Off server. Slot tersebut dapat memuat 5 HDD sekaligus, dalam kasus ini hanya terisi 2 HDD.

Opsi menggunakan lebih dari 1 HDD untuk menghasilkan baik peningkatan perfomansi maupun stabilitas disebut metode RAID, kependekan dari Redundant Array of Independent Disk. RAID disebut – sebut sebagai salah satu konfigurasi terbaik untuk dicetuskan pada server.

Dalam pengerjaan tugas ini, aku menggunakan metode RAID1 yang mengusung jargon “Disk Mirroring”, dengan kata lain data – data yang diterima akan disalurkan ke HDD lainnya secara bertahap, menciptakan salinan yang sama persis dengan yang diterima oleh HDD utama. Minimal HDD yang dibutuhkan untuk metode RAID1 adalah 2.

Ilustrasi RAID1.

Ilustrasi RAID1.

Bila dijabarkan, hasil akhir yang di harapkan adalah sebagai berikut:

  • Sukses instalasi OS Ubuntu Server 14.04 dan dapat digunakan *usable
  • Sukses konfigurasi Software RAID1 dengan keterangan:
    • HDD 1 (Size: 998 GB) –> RAID1 (satukan dengan HDD 2)
    • HDD 2 (Size: 998 GB) –> RAID1 (satukan dengan HDD 1)

Maka dimulailah lika-liku pengerjaan sebuah server HP Proliant ML150 Gen9, dibawah ini adalah beberapa poin yang disampaikan untuk mempermudah penulisan artikel ini.

Pemilihan .iso

Untuk file .iso Ubuntu-nya, aku mengandalkan versi 14.04 dengan arsitektur 64-bit yang memang sudah merupakan tuntutan dari ayahku. Memang sudah sewajarnya memakai 64-bit sebab server ini telah dibekali UEFI yang merupakan suksesor mumpuni dari BIOS.

Proses download file .iso yang cukup memakan waktu 20 menit dengan cepat berlalu, lalu file tersebut di burn pada dvd kosong hingga menjadi bootable DVD.

Pencarian RAID

Sebelum memulai memodifikasi apapun, aku segera mencari informasi mengenai RAID dan cara meng-aplikasikannya kepada komputer, berhubung ini adalah kali pertama aku berurusan dengan RAID.

Berbekal penulurusan dari Google, aku mengetahui bahwa RAID dianjurkan untuk server/pc yang memiliki lebih dari 1 hdd, maka server ini bisa dikualifikasikan sebagai device yang bisa di-RAID. Metode yang kugunakan adalah Software RAID, yaitu jenis implementasi RAID yang basisnya adalah sistem operasi (OS), RAID jenis ini memanfaatkan sumber daya sistem seperti CPU untuk bisa berjalan.

Segera aku mencari panduan komplit untuk meng-RAID server dengan OS Ubuntu 14.04, hasil pencarian menunjukan sekian banyak blog maupun website yang menerangkan tata cara RAID. Aku lantas memilih web dengan pendatang paling banyak (populer), dalam web tersebut dijelaskan dari awal instalasi OS hingga bagian meng-konfigurasi Software RAID-nya. “Sempurna !” pikirku dalam hati.

Instalasi & Konfigurasi OS Ubuntu Server 14.04 (include RAID1)

DVD yang sebelumnya sudah dibuat menjadi bootable DVD akan digunakan untuk melakukan proses instalasi, setelah memasukkan dvd dan melalui beberapa tahap penyesuaian, akhirnya sampai juga kepada main page instalasi Ubuntu Server yang didahului dengan memilih bahasa saat proses instalasi.

Halaman awal instalasi. (Sumber: https://tutorials.ubuntu.com)

Halaman awal instalasi. (Sumber: https://tutorials.ubuntu.com)

Seusai melewati serangkaian prosedur instalasi, akhirnya sampai juga pada tahap pengaturan storage, yaitu tahapan dimana RAID akan di konfigurasi.

Dalam pengaturan storage, aku mengikuti arahan dari web yang kujadikan acuan/sumber, dijelaskan untuk membuat partisi baru kepada masing-masing hdd yang akan di-RAID. Kedua hdd harus memiliki set partisi yang sama, dalam hal ini aku membuat 2 partisi yaitu:

  1. Partisi untuk swap (use as physical volume for RAID)
  2. Partisi untuk / (use as physical volume for RAID).

Kedua partisi tersebut kemudian diimplementasikan kepada masing-masing hdd, sehingga proses konfigurasi RAID1 bisa dimulai.

Konfigurasi Software RAID1

Mengkonfigurasikan Software RAID1 dalam menu instalasi Ubuntu Server dilakukan dengan cara memilih opsi “Configure Software RAID” pada tahapan pengaturan storage, kemudian buatlah 2 MD Device (dalam  konfigurasi RAID1 minimal hdd adalah 2 buah) masing-masing untuk menampung partisi Swap dan / dari kedua hdd.

Informasi storage setelah di-RAID1. (Sumber

Informasi storage setelah di-RAID1. (Sumber youtube.com)

Pada gambar diatas, tampak partisi Swap (#1 Primary) dari kedua hdd (sda dan sdb) yang telah dilabeli RAID, tampak pula partisi RAID1 device #0 dengan kapasitas sama dengan partisi Swap, yaitu 427.8MB. Ini adalah penjelmaan dari 2 partisi yang telah di RAID1 menjadi sebuah Software RAID Device.

Upaya konfigurasi RAID1

Aku segera mengikuti panduan mengkonfigurasikan RAID1 dari web, membuat partisi baru, melabeli partisi, buat MD Device baru, masukkan partisi ke dalam MD Device. Alhasil terciptalah 2 Software RAID Device yang masing-masing mencakup partisi Swap dan /, dengan perasaan berseri aku mengakhiri partitioning dengan memilih Finish Partitioning and write changes to disk, hingga melanjutkan proses instalasi Ubuntu Server 14.04 yang telah dikonfigurasi dengan RAID1.

Usai proses instalasi, aku me-restart server menantikan kemunculan OS yang baru saja di install pada boot loader. Namun, setelah server di restart, ternyata tidak ada tanda-tanda kemunculan OS apalagi boot loader (grub)server seakan menganggap tidak ada OS yang terinstall pada hdd.

Sumber:www.lowefamily.com.au

Sumber: www.lowefamily.com.au

Pemecahan masalah

Hal pertama yang kusadari adalah kenyataan bahwa server memiliki perangkat UEFI dan bukanlah tradisional BIOS, aku berpikir mungkin saja itu salah satu penyebab mengapa server tidak mau boot. Segera kucari masalah yang serupa di pencarian Google, dengan harapan ada kunci penyelesaiannya.

Lantas aku mencari cara bypass masalah UEFI tidak boot, hasil pencarian mengemukakan komputer dengan firmware UEFI harus memiliki EFI System Partition dengan keterangan sbb:

  • File system FAT32
  • Ukuran/Size 300 MB – 500 MB

Efi System Partition atau ESP merupakan sebuah partisi yang berisi, antara lain, satu atau lebih bootloader, yang dimuat oleh firmware UEFI saat startup, dan yang diperlukan untuk mem-boot OS yang terinstal. Oleh karena itu ESP diperlukan untuk menjalankan sistem ber-UEFI.

Oke, berarti penyebab masalahnya adalah ketidaktersediaan ESP, maka aku menginstal ulang OS Ubuntu Server dan tidak lupa menambah ESP dalam partition table ketika proses instalasi berlangsung.

Layar menunjukan pop-up bertajuk “Installation Complete”, tanda proses instalasi sudah rampung, aku antusias mengingat ESP telah tersedia, artinya kini OS seharusnya dapat boot tanpa kendala.

Jemariku menekan tombol off, disusul dengan tombol on untuk menyalakan kembali server. Kali ini aku merasa semua halangan sudah di bereskan, mantap menduga server akan booting dengan mulus.

Tibalah saat penentuan, usai POST berlalu aku mengharapkan akan melihat GRUB Bootloader dengan OS Ubuntu sebagai pilihannya. Ditunggu-tunggu tapi tetap saja tidak muncul, dan….. server kembali menunjukan pesan No bootable devices were detected.

“HAH?!?! masih bermasalah??” gumamku terheran. Nyaris aku merasa ini server emang nggak bisa di instal Ubuntu, tenang…

Pemecahan masalah #2

Harusnya sih nggak ada lagi kendala karena ESP yang merupakan syarat untuk UEFI sudah ditambahkan ke hdd, sedangkan pesan yang muncul terkait dengan UEFI boot.

Aku lekas berburu penyelesaian di internet, tapi tampaknya tidak ada perkara terkait UEFI tidak mau boot OS Ubuntu setelah ditambah partisi EFI. Semua mengatakan bahwa keberadaan ESP diperlukan untuk mem-boot Ubuntu dalam firmware UEFI, bila sudah ada maka Ubuntu bisa di-boot dengan mulus.

Ah, tapi mungkin saja ini tidak berkaitan dengan Ubuntu akan tetapi menjorok kepada perangkat/device itu sendiri, dalam kasus ini server HP Proliant, maka aku mulai mencari workaround yang menyinggung server HP.

Alhasil aku menemukan segelintir solusi untuk HP Proliant yang tidak mau boot UEFI, langsung aku mempraktekan solusi-solusi yang kutemukan. Solusi itu antara lain:

  1. Nonaktifkan HP Dynamic Smart Array di UEFI setting.
  2. Nonaktifkan Secure Boot di UEFI setting.
  3. Ganti opsi dari AHCI –> Legacy Sata di UEFI setting.

Setelah dilakukan perubahan pada setting yang bersangkutan, serverpun bisa boot dengan mulus. Horee!!!

Kesan

Pada akhirnya pekerjaan yang kukira mudah ini ternyata memakan waktu hingga 3 hari lamanya, tapi itu tidak penting, yang penting adalah pengalaman yang kudapatkan dari tugas ini. Mudah-mudahan tulisan ini bisa membantu pembaca yang tengah menghadapi tugas serupa :D

Bai